WAKIL Ketua DPRD Kota Makassar, Samsu Niang, SPd. MPd adalah salah satu publik figur yang menerima penganugerahan Tokoh Berita Pendorong Kemajuan Harian Berita Kota Makassar 1 Juli 2013 lalu. Mantan guru yang memilih pensiun dini ini ditetapkan sebagai Tokoh Pendorong Kemajuan bidang pendidikan.
Wajar jika Samsu Niang dinobatkan sebagai pendorong kemajuan bidang pendidikan. Selama menjabat sebagai anggota DPRD Kota Makassar sejak 2004 lalu, ia sangat konsen mengawal isu-isu pendidikan. Setiap ada persoalan pendidikan, ia langsung angkat bicara.
Terutama menyangkut kebijakan yang merugikan bidang pendidikan. Apalagi, saat di DPRD, ia memilih menjadi anggota Komisi C (saat ini komisi D) bidang pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Sebelum menjabat sebagai anggota dewan, alumni Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Makassar (UNM) ini dikenal sebagai guru di SMPN 32 Makassar.
Selama menjadi guru, Samsu dikenal sebagai guru yang kritis. Ia selalu turun ke jalan menyuarakan aspirasi guru. Setiap ada kebijakan atau keputusan yang tidak berpihak pada guru, siswa dan dunia pendidikan, tanpa ragu ia mengorganisir para guru yang tergabung dalam FKPAGI Sulsel untuk turun ke jalan.
Saat itu, warga Jalan Bung, Kecamatan Tamalanrea ini ditunjuk sebagai Ketua FKPAGI Sulsel, organisasi guru yang selalu konsen memperjuangkan kepentingan guru. Setiap kemana-mana, ia hanya ditemani motor vespa bututnya. Tapi ia tidak peduli. Termasuk ketika ada yang mencibirnya, seorang guru hanya mampu membeli motor vespa butut.
''Materi bukan hal utama. Yang penting adalah bagaimana saya berjuang untuk perbaikan dunia pendidikan,'' katanya.
Ia mengatakan, saat itu FKPAGI sangat disegani setiap pengambil kebijakan. Mereka selalu turun menyuarakan kepentingan guru, peserta didik dan perbaikan dunia pendidikan di Sulsel. ''Bahkan, banyak yang mengenal saya sebagai demonstran oleh beberapa anggota dewan, bukan sebagai guru,'' kata Samsu Niang.
Berawal dari FKPAGI inilah, orientasi Samsu berubah. Dulu ia ingin berbuat banyak hal ketika menjadi seorang guru. Namun ia sadari, kalau hanya menjadi seorang guru, tidak memiliki pengaruh lebih besar untuk memperbaiki sistem dan kebijakan terkait dunia pendidikan.
Ketika karirnya di SMPN 32 Makassar lagi bagus-bagusnya, Samsu Niang malah memutuskan pensiun dini sebagai guru. Ia ingin menjadi anggota DPRD dan bisa memberikan sumbangan pemikiran di dunia pendidikan.
Samsu pun memilih bergabung di Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) Kota Makassar yang saat itu masih dipimpin Adil Patu. Ia menjadi caleg untuk daerah pemilihan V meliputi Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya. Berkat kerja kerasnya, Samsu Niang terpilih sebagai anggota DPRD Kota Makassar periode 2004-2009.
Rupanya kerja-kerja Samsu selama 2004-2009 mendapat respon masyarakat. Ia dinilai sebagai anggota dewan yang fokus mengawal bidang pendidikan. Makanya, saat kembali menjadi caleg pada Pemilu 2009, ia terpilih kembali. Bahkan, untuk periode 2009-2014, Samsu Niang dipercaya sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Makassar dan sebagai Ketua PDK Kota Makassar.
''Sejak menjadi anggota dewan memang saya bertekad untuk memperjuangkan bidang pendidikan. Dan alhamdulillah, masyarakat tahu apa yang telah saya lakukan, dan saya kembali terpilih sebagai anggota dewan pada Pemilu 2009,'' katanya.
Rupanya, Samsu Niang ingin berbuat lebih besar lagi. Jika selama ini melalui DPRD hanya bisa berbuat untuk Makassar, maka ke depan ia ingin berbuat untuk Sulsel. Ia pun memutuskan menjadi caleg DPR RI melalui PDIP lantaran PDK dinyatakan tidak lolos verifikasi.
Sebenarnya, Samsu Niang telah banyak memberikan sumbangan pemikiran untuk pembangunan bidang pendidikan di Sulsel. Utamanya saat posisinya sebagai Ketua FKPAGI Sulsel. Banyak hal ia mencoba melakukan perubahan pada pendidikan di Sulsel.
Namun, untuk menegaskan cita-citanya, ia ingin melakukan perubahan melalui legislatif. ''Saya ingin mengikuti jejak Prof Anwar Arifin saat menjabat sebagai anggota DPR RI,'' kata Samsu Niang.
Menurutnya, selama menjabat sebagai anggota DPR RI, pemikiran Prof Anwar Arifin sangat banyak mengubah sistem pendidikan di Indonesia. Termasuk saat penyusunan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Padahal, katanya, Prof Anwar Arifin bukan pakar pendidikan. Ia adalah Guru Besar bidang komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas). Namun, Prof Anwar dinilai mampu membawa perubahan pada sistem pendidikan nasional.
''Prof Anwar Arifin saja bisa melakukan perubahan dibidang pendidikan. Dan saya optimis bisa mengikuti jejak Prof Anwar Arifin. Dunia pendidikan bagi saya adalah dunia yang harus mendapat perhatian serius karena menyangkut penyediaan sumber daya manusia,'' tutur Samsu Niang. (*)
Sumber
7:29:00 AM
Share:

About